26 Agustus 2026
Redaksi
159

Aroma Kongkalikong di BBVF Pusvetma: Pengadaan Mesin Miliaran Rupiah Diduga Di-Mark Up Ugal-ugalan, Merek Italia tapi Gambar Tiongkok?

Surabaya, Pusakanews. – Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa di lingkungan Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma, instansi di bawah Kementerian Pertanian RI, kini tengah menjadi sorotan tajam publik.

Lembaga yang seharusnya berfokus pada kemandirian vaksin dan obat hewan ini diterpa isu miring terkait dugaan pengadaan barang yang terindikasi mengalami penggelembungan harga (mark-up) serta dugaan persekongkolan tender yang berpotensi merugikan keuangan negara hingga ratusan persen.

Berdasarkan data yang dihimpun tim investigasi, sorotan utama tertuju pada dua paket pengadaan mesin produksi bernilai fantastis yang dimenangkan oleh satu rekanan yang sama, yaitu PT FGl.

Paket pertama adalah Pengadaan Mesin Filling Capping Labeling (Robotic) Volume 1 Unit dengan Total Pagu Rp 7.641.800.000. Paket ini dimenangkan dengan harga penawaran Rp 7.641.799.440—hanya berselisih Rp 560 dari nilai pagu.

Sementara paket kedua, Mesin Pengisi + Capping + Etiketing (Automatic) dengan pagu Rp 3.907.200.000, dimenangkan dengan harga yang persis sama dengan nilai pagu, yaitu Rp 3.907.200.000.

Indikasi "HPS Rekayasa" dan Landed Cost yang Janggal

Muncul dugaan kuat bahwa Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang disusun oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tidak berbasis pada survei harga pasar riil. Sebaliknya, HPS diduga dirancang melalui negosiasi terselubung bersama pihak rekanan agar harga di etalase dan paket terlihat wajar secara administratif.

Hasil penelusuran mendalam pada pasar global menunjukkan adanya selisih harga atau landed cost (total biaya sampai barang tiba di lokasi) yang sangat ekstrem, berkisar antara 100% hingga 500% lebih tinggi dari harga wajar.

Di etalase Inaproc PT Fillomatic Global Industries, tercatat dua mesin sejenis: Mesin Pengisi dan Penutup Sistem Rotary Intermiten (NEXUS J40): Ditawarkan seharga Rp 4.340.322.000/unit (termasuk PPN 12%). Mesin Pengisi dan Penutup Sistem Robotic (ROBO-flexLINE C30): Ditawarkan seharga Rp 8.556.325.110/unit (termasuk PPN 12%).

Kejanggalan Spesifikasi: Merek Eropa, Visual Tiongkok?

Kejanggalan lain yang cukup menggelitik adalah ketidaksesuaian antara deskripsi produk dan gambar yang ditampilkan pada etalase Inaproc. Rekanan mencantumkan spesifikasi mesin produksi Comecer (Italia) Seri flexLINE C30—sebuah mesin robotic aseptic filling kelas farmasi steril tingkat tinggi berstandar Eropa. Namun, gambar unit yang dipajang justru identik dengan produk besutan produsen Yantai Yanhui asal Tiongkok.

Perbedaan asal negara ini berdampak sangat signifikan pada nilai ekonomis barang. Jika dihitung berdasarkan komponen pajak impor resmi tahun 2026 (Bea Masuk 5% - 7.5%, PPN Impor 11% - 12%, dan PPh Pasal 22 Impor):

Jika Produk Asli Comecer (Italia) - Seri flexLINE C30: Harga FOB berkisar Rp 1,5 Miliar – Rp 3,5 Miliar, dengan estimasi total Landed Cost maksimal sekitar Rp 1,9 Miliar – Rp 4,4 Miliar.

Jika Produk Yantai Yanhui (Tiongkok): Harga FOB hanya berkisar Rp 400 Juta – Rp 1,2 Miliar, dengan estimasi Landed Cost akhir di kisaran Rp 519 Juta – Rp 1,5 Miliar. Dan Jika mesin yang dikirimkan nantinya tidak sesuai dengan spesifikasi harga Eropa, maka potensi kerugian negara dipastikan akan membengkak sangat besar.

Jerat Aturan yang Diduga Dilanggar Atas temuan fakta dan indikasi di atas, Para pihak terkait berpotensi menabrak sejumlah regulasi ketat hukum di Indonesia, di antaranya:

UU No. 31 Tahun 1999 juncto UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi: Pasal 2 dan Pasal 3 mengenai perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain/korporasi yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara.

Perpres No. 12 Tahun 2021 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah: Pelanggaran terhadap prinsip dasar pengadaan, terutama asas Efektif, Efisien, Terbuka, dan Bersaing, serta kewajiban PPK menyusun HPS berdasarkan kalkulasi keahlian dan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Terkait ketidaksesuaian visual (gambar) dengan informasi spesifikasi asli barang yang ditampilkan di sistem pengadaan negara.

Demi keberimbangan keterbukaan informasi sampai berita ini diturunkan redaksi Pusakanews terus berupaya melakukan konfirmasi melalui Kepala BBVF Pusvetma Surabaya drh. Edy Budi Susila, M.Si melalui Pesan WhatsApp mengatakan, Pak, ijin kami butuh waktu untuk koordinasi, ucapnya singkat.

Temuan logo produsen Tiongkok pada gambar ini merupakan bukti material (bukti fisik) yang sangat kuat Hal ini membuktikan adanya ketidaksesuaian fatal (mismatch) karena spesifikasi tertulis yang diajukan di etalase pengadaan bermerek Eropa dengan harga miliaran rupiah, tetapi visual barang yang dipasang justru produk manufaktur Tiongkok dengan nilai pasar jauh lebih rendah. ( Zack)

Tags